KAPITALISME “MENGGUGAT!”

Opini    | 18 Jul 2019 | Read 327 times
KAPITALISME “MENGGUGAT!”

Siapa sih yang tidak tahu smartphone, dan siapa yang zaman sekarang tidak punya smartphone atau Handphone. Kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari televisi, kulkas, alat pendingin, internet, mobil, motor, sepeda, pakaian yang modis dan bermutu tinggi, ojek online, bahkan makanan instan yang memanjakan perut kita. Semua itu merupakan hal lumrah dalam keseharian kita, tetapi tidak pada 150 tahun lalu.

Ya, dalam waktu kurang dari 200 tahun peradaban manusia bisa melompat sedemikian jauh dari apa yang dahulu nenek moyang kita lakukan. Teknologi pertanian zaman Fir’aun di abad ke-18 SM  tidak jauh beda dengan cara bertani manusia Jawa pada tahun 1400-1700an. Namun di abad 20-21, tekhnologi pertanian kian maju, kita terus menemukan varietas unggul, sistem irigasi modern, dan teknik bertani yang menghasilkan produktivitas tinggi.

Darimana keunggulan dan kemajuan tersebut? Kekuatan maha dahsyat darimana yang telah membuat perubahan besar-besaran pada manusia millenial ini? Tak lain tak bukan, karena manusia telah menciptakan sistem yang “manusiawi”, yang efisien, dan juga menjunjung kreativitas manusia. Sistem itu bernama KAPITALISME!

Lho kenapa kapitalisme??” Bagi sebagian orang (malah kebanyakan orang),   kapitalisme adalah suatu sistem yang keji dan jahat. Terlalu banyak artikel dan juga buku yang mencela kapitalisme, bahkan banyak mahasiswa di luar sana yang kerap berdemo mencaci maki kapitalisme seolah kapitalisme adalah setan besar yang harus dilawan.

Suara sumbang mengenai kapitalisme saya rasa lebih banyak ketimbang nada yang memuji kapitalisme. Bagaimana tidak, kapitalisme telah disalahpahami bahkan oleh para tokoh masyarakat dan mereka yang anti-kapitalisme, menuduh kapitalisme sebagai biang segala biang. Entah itu biang kemiskinan, biang penghisapan, dan biang dari alienasi manusia.

Kita ambil contoh ketika masa-masa pemilu yang lalu, isu bahwa terjadinya kebocoran pendapatan negara, ketimpangan ekonomi, pasar oligarki yang tidak sehat, dominasi usaha asing selalu diangkat dan (tentu saja) menyalahkan pemerintah yang pro pada sistem kapitalisme sehingga menyusahkan rakyat.

Sekurang-kurangnya terdapat 3  tuduhan terhadap kapitalisme, 1. Persaingan buas, 2. Kronisme, dan 3. Eksploitasi. Nah, mari kita kuliti tuduhan-tuduhan tersebut, apakah tuduhan tersebut adil, atau hanya bentuk kebencian kosong saja.

 

APA ITU KAPITALISME?

Kata kapitalisme merupakan istilah yang dicetuskan dan dipopulerkan oleh Karl Marx dan Friedrieck Engels. Marx sendiri dalam karyanya jarang menyebut kata kapitalis. Ia lebih suka menyebutnya sebagai Ekonomi Politik (karena itu anak judul dari buku Das Kapital adalah: Sebuah Kritik Ekonomi Politik).

Kaum Marxis Kapitalisme dianggap sebagai sebuah sistem dimana seorang pemilik modal, melakukan berbagai cara untuk memperbesar keuntungan bagi dirinya sendiri, walaupun ia melakukannya dengan eksploitasi (dalam hal ini eksploitasi kaum buruh). Namun, pengertian negatif semacam ini tentu tidak objektif jika kita melihat betapa gaji buruh di kota yang kian tinggi, barang-barang pokok yang tidak terlalu mahal, dan juga jaminan-jaminan sosial bagi para pekerja.

Eamonn Butler (2018) lewat karyanya, An Introduction to Capitalism, (yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Suarakebebasan.org (2019), dengan judul, Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia), mungkin adalah salah satu buku yang paling objektif dalam menjelaskan kapitalisme.

Alih-alih menganggap kapitalisme sebagai sistem yang tidak manusiawi, eksploitatif, dan individualistik,  namun prinsip dasar kapitalime justru sangat menjunjung tinggi kebebasan dan kemanusiaan. Kapitalisme atau ekonomi pasar bebas sangat menjunjung kesetaraan antara manusia (baik konsumen dan produsen). Kapitalisme menghargai hak individu untuk memilih pilihannya dan menjamin properti dan hak atas properti yang dimilikinya.

Masalah Persaingan

Beberapa buku-buku teks kaum sosialis dan strukturalis menilai bahwa kapitalisme adalah sistem yang kejam karena persaingan. Persaingan atau kompetisi dianggap telah menyuburkan ajaran: yang kuat selalu menindas yang lemah. Anggapan ini terlalu ekstrim dan lebay. Kita tidak bisa mengatakan kompetisi adalah suatu hal yang buruk. Sudut pandang mereka bahwa kompetisi adalah “saling hajar” adalah keliru.

Kompetisi dipandang dari sudut filsafat adalah berlomba-lomba  meningkatkan diri untuk menjadi yang terbaik. Kompetisi dalam kapitalisme berarti suatu usaha individu dalam memperbaiki kualitas produk dan pelayanannya, tentu dengan tujuan untuk menarik hati konsumen. Bayangkan jika suatu usaha tanpa kompetisi, hasilnya adalah stagnasi, tidak ada kreativitas, serta tidak ada dorongan untuk memperbaiki mutu pelayanan dan produknya.

Kompetisi tidak selalu saling bernegasi. Faktanya, dalam usaha selalu kita membangun jaringan-jaringan bisnis dan kerjasama. Melalui kerjasama bisnis yang sehat ini keuntungan individu dapat terpenuhi tanpa harus saling hajar, yang kerap dimaknai sebagai persaingan yang tidak sehat.

 

Masalah Kroni dan Kongkalingkong

Ya, banyak orang menganggap bahwa kapitalis hidup dan bertumpu pada struktur negara dan politik sehingga tercipta eksploitasi besar-besaran dan juga usaha yang tidak sehat. Misalnya, lewat kehadiran elit-elit atau konglomerat yang memonopoli pasar atau membuat suatu sistem oligarki yang mengontrol harga barang.

Perlu ditekankan bahwa pasar oligarkis dan monopoli bukan prinsip dari kapitalisme. Elit kroni yang membuat kartel adalah penyimpangan dari kapitalisme yang berlandaskan pasar bebas. Kartel dan kronisme tercipta akibat kolaborasi politisi dengan elit pengusaha yang menjalankan usaha secara tidak sehat, yang menghambat persaingan terbuka dan sehat.

Kapitalisme secara tegas menolak kronisme yang dipelihara oleh negara. Setiap orang harus mendapat jaminan usaha dan peluang yang sama tanpa dibedakan oleh ras, agama, atau politik dan keluarga. Kronisme jelas bukan kapitalisme, sebaliknya, persaingan yang tidak jujur dan kolusi antara pebisnis dan politisi adalah hal yang dilarang.

Faktanya, monopoli dan oligarki pasar justru muncul di negara komunis dan semi sosialis, seperti Soviet atau Venezuela, dimana negara mengontrol pasar dan juga konsumsi masyarakat. Akibatnya tidak ada efisiensi, kualitas barang yang ala kadarnya, dan tentu saja korupsi. Jadi, praktik kronisme dan monopoli bukan bagian dari dan/atau disebabkan oleh kapitalisme.

 

Eksploitasi Manusia?

Isu yang sering diangkat oleh mereka yang membenci kapitalisme adalah mengenai eksploitasi manusia.  Kapitalisme selalu diasosiasikan sebagai bentuk perbudakan baru terhadap buruh, namun apa benar demikian? Jawabannya tentu tidak. Eksploitasi didasarkan pada “pemaksaan”, sedangkan dalam kapitalisme buruh mendapat pekerjaan karena keinginannya untuk bekerja. Buruh mendapat upah sesuai dengan kontrak kerja yang disepakati.

Meningkatnya taraf hidup dan kenaikan upah yang layak untuk buruh di Eropa dan Asia saat ini merupakan cerminan bahwa dalam kapitalisme buruh mendapat kucuran keuntungan bukan diperlakukan sebagai budak. Kapitalisme selalu berlandaskan pada kolaborasi dan kerjasama. Eksploitasi dan perbudakan justru berbanding terbalik dengan spirit kapitalisme.

Adam Smith pernah berkata, “Bila seseorang menelaah apa yang menguntungkan bagi dirinya, dengan sendirinya ia terarahkan untuk menyukai apa yang paling menguntungkan bagi masyarakat.” Maksudnya, jika kita ingin membuka suatu usaha industri, maka kita akan melihat apa yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam menghadapi kemiskinan, kapitalisme memang tidak akan membagikan makanan atau uang subsidi bagi orang miskin, tetapi kapitalisme memberi mereka kesempatan berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka secara mandiri tanpa harus mengemis pada orang lain. Apakah ini suatu perbuatan abmoral?

 

Merenungkan Kembali Kapitalisme

Ayn Rand, seorang filsuf perempuan asal Rusia berpendapat bahwa kapitalisme adalah sistem sosial yang bermoral karena tidak mengandalkan suatu pemaksaan dan bekerja melalui pertukaran sukarela. Tidak ada orang yang boleh dipaksa untuk menyukai atau memilih sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Watak sukarela dan anti pemaksaan dari kapitalisme ini telah menciptakan kultur  dimana manusia wajib menghargai pilihan orang lain dan saling berhubungan dengan asas saling menjaga dan menguntungkan individu lain. Dalam berhubungan dengan sesama, kapitalisme justru menyuruh kita agar menghilangkan hasrat mendominasi dan menanamkan watak “simbiosis mutualisme”.

Kapitalisme menghargai mereka yang memberi keuntungan pada orang lain, yang membangun hubungan dengan kolaborasi atau kerjasama. Tujuan dari kapitalisme adalah agar manusia bisa mengejar tujuannya sendiri dengan bebas dan damai tanpa dipaksa oleh mereka yang punya kuasa.

Kapitalisme memang tidak mengajarkan kita menjadi seorang altruis yang saleh, tetapi mengubah kepentingan pribadi menjadi keuntungan bersama (lihat prinsip Adam Smith di atas).  Sistem kapitalisme menghargai talenta, hasil kerja, tenaga, dan kreativitas manusia. Inilah yang membuat sistem kapitalis mampu mendorong manusia untuk terus berinovasi dan berkarya, dan secara tidak langsung telah memajukan kehidupan umat manusia.

Jadi, masihkah kita membenci kapitalisme?

Reynaldi Adi Surya

Reynaldi adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Jakarta, Seorang aktivis Muslim moderat yang tertarik untuk mengembangkan ide-ide mengenai toleransi, kemanusiaan, kebebasan, dan kerukunan antar umat beragama. Email: [email protected]