Terbaru

Catatan: Artikel ini adalah derivasi dan modifikasi dari esai Nassim Nicholas Taleb (@nntaleb) yang berjudul “The Logic of Risk Taking”, yang juga menjadi Bab 19 buku “Skin in the Game”. Silakan rujuk esai tersebut untuk pemahaman yang lebih utuh mengenai time probability, ensemble probability, dan ergodicity.

“The Logic of Risk Taking” dapat diakses pada link berikut: https://medium.com/incerto/the-logic-of-risk-taking-107bf41029d3

Berapa probabilitas Anda selamat dalam permainan Russian roulette?

Jika kita menggunakan peraturan standar, dimana hanya satu peluru yang diisi ke dalam salah satu dari enam slot peluru pada sebuah pistol revolver, maka probabilitasnya adalah 5:6 atau sekitar 84 persen. Tidak begitu buruk, bukan?

Bayangkan jika hadiah dari memenangkan satu ronde Russian roulette adalah Rp1 miliar. Maukah Anda melakukannya?

Mendapatkan 1 miliar dengan hanya 16 persen probabilitas kematian rasa-rasanya bukan perjudian yang buruk. Saya yakin cukup banyak orang bernyali (atau putus asa) yang mau mengambil kesempatan tersebut.

 

"Apa yang muncul di pikiran Anda ketika mendengar kata 'kapitalisme'?"

Ada kemungkinan reaksi negatif langsung hadir di benak Anda. Ya, kapitalisme memang kerap diidentikan dengan berbagai hal buruk yang melanda manusia. Ia sering dianggap sebagai sistem ekonomi eksploitatif yang hanya menguntungkan kelas atas dan kaum penguasa.

Hanya mereka yang memiliki modal ekonomi besar yang meraih keuntungan dari sistem tersebut, seraya meninggalkan kelas menengah dan pekerja hidup di dalam kemiskinan. Maka dari itu, tidak mengherankan kalau kapitalisme oleh kelompok tertentu dianggap sebagai kanker yang harus dihancurkan demi menyelamatkan umat manusia.

DOWNLOAD DI SINI

 

Tentang Buku Ini

Cukup sulit menemukan buku yang mampu menjelaskan dengan sederhana dan objektif tentang apa yang dimaksud dengan kapitalisme, bagaimana sistem ini berjalan, termasuk kelebihan dan kekurangannya.

Kata kapitalisme itu sendiri diciptakan sebagai maksud cacian. Dan sampai hari ini, sebagian besar buku-buku yang membahas kapitalisme masih bermusuhan dengan kapitalisme itu sendiri, atau menjelaskannya dengan gambaran yang keliru. Juga biasanya pendukung kapitalisme sendiri kesulitan dalam memahami apa itu kapitalisme, sehingga mereka membenarkan beberapa kesalahpahaman tentang kapitalisme dibanding menjelaskan yang sebenarnya. 

Oleh karena itu, muncul kebutuhan untuk membuat panduan singkat yang memberi garis besar kapitalisme secara sederhana dan objektif. Maka inilah tujuan penulisan buku ini. 

Cakupan Buku 

Buku ini membahas prasangka dan kesalahpahaman tentang kapitalisme dengan cara berusaha mendefinisikan kapitalisme secara akurat - serta menjelaskan pengertian yang bukan kapitalisme - menguliti kekusutan yang datang dari kritikus-kritikusnya agar inti dan substansi kapitalisme itu sendiri bisa dipahami. 

Buku ini juga mengidentifikasi apa yang dimaksud dari modal, apa bentuknya, bagaimana dan mengapa modal bisa muncul, tujuannya, penggunaannya, sampai dengan dampak yang ditimbulkannya. Buku ini akan menjelajahi sifat kapitalisme dari sudut pandang sosial, ekonomi, dan moralitas, dan bagaimana institusi negara menunjangnya. 

Buku ini mengikuti jejak sejarah kapitalisme, menjelaskan beberapa gagasan besar pendukungnya, dan menguji kritikan para penentangnya. Buku ini menyediakan penilaian yang jujur dari kelebihan dan kelemahan kapitalisme, serta masa depannya. 

Untuk Siapa Buku Ini

Buku ini ditulis dengan sederhana, dengan bahasa yang mudah, bebas dari jargon-jargon, istilah teknis, catatan kaki atau glosarium khas akademisi. Tujuannya agar semua orang bisa memahami kapitalisme dengan sebenarnya - dan juga untuk membantu mereka yang merasa telah memahami kapitalisme agar bisa lebih paham lagi. 

Buku ini tentunya bisa membantu pelajar dan mahasiswa agar bisa memahami kapitalisme - terutama mengingat sebagian besar dosen universitas masih memusuhi kapitalisme, buku ini akan memberi pertanyaan yang tajam yang bisa digunakan untuk berdiskusi. 

 Tapi buku ini juga berguna untuk publik, termasuk pengusaha, politisi, dan warga secara umum yang tertarik ke dalam ide-ide ekonomi politik dan mencari panduan yang jujur menjelaskan gagasan dan argumentasi kapitalisme. 

Pandangan Penulis tentang Kapitalisme

Beberapa penulis buku-buku kapitalisme menjelaskan prasangka mereka tentang kapitalisme, atau bahkan mengakuinya. Mereka mengarahkan pembaca kepada miskonsepsi yang mereka ciptakan dan berpikir apa yang ditulisnya sebagai pandangan objektif. 

Saya secara terbuka mengakui bahwa saya mendukung cita-cita kapitalisme yang ideal - walaupun terkadang tidak mendukung kenyataannya. Saya menolak gagasan bahwa kapitalisme secara fundamental tidak bermoral dan anti-sosial. Justru saya percaya bahwa kapitalisme terdistorsi oleh intervensi negara lewat keputusan para politisi dan kemudian menyalahkan kapitalisme atas segala macam konsekuensinya. Tapi bahkan di dalam kondisi yang terdistorsi, sistem kapitalisme masih bisa menyebarkan kesejahteraan ke seantero planet.

Maka saya masih bersimpati pada cita-cita kapitalisme, walaupun menyadari segala kritikan yang menyerang konsep dan realitasnya. Dalam menjawab kritik terhadap kapitalisme, saya berharap ada keseimbangan perdebatan sehingga memberikan pembaca dengan penjelasan yang objektif tentang kapitalisme.

Konten Buku

Isi buku ini akan dimulai dari usaha untuk membedakan kapitalisme dari yang bukan kapitalisme. Kemudian menjelaskan apa itu modal, dari mana datangnya, apa fungsinya, mengapa kita membutuhkan modal, dan pentingnya struktur dan jalinan modal di masyarakat (yang sering diabaikan oleh kritikus maupun pendukung kapitalisme).

Kemudian buku ini menjelaskan hal-hal yang dibutuhkan agar kapitalisme bisa berjalan, mengurai peran dan sifat kepemilikan, insentif, kompetisi, pasar, institusi-institusinya, dan negara. Selanjutnya, buku ini mempertimbangkan kritik moral atas kapitalisme, beserta visi dan dampak moralnya yang positif (yang lebih jarang terdengar).

Buku ini akan meletakkan kapitalisme dalam konteks sejarah, memetakan sistem ekonomi yang sudah membantu menciptakan prinsip dan idealisme kapitalisme, beserta intervensi politik yang telah memudarkan dan menyesatkannya. 

Selanjutnya buku ini akan menjelaskan secara singkat gagasan dari beberapa pemikir besar dari kapitalisme, dan menanggapi kritikan dari pencelanya.

Akhir kata, buku ini menggaris bawahi kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman untuk menilai masa depan kapitalisme. Di akhir buku pembaca bisa menemukan daftar buku-buku yang juga bisa menambah wawasan dalam topik yang menarik ini.

Dalam interview dengan harian Inggris Financial Times beberapa waktu lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa liberalisme merupakan ide yang sudah usang.

Melihat tren naiknya kelompok populisme di dunia akhir-akhir ini, tidak sedikit yang mempercayai bahwa yang dikatakan Presiden Putin merupakan sesuatu yang benar. Dimulai dari fenomena Brexit di Britania Raya, terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, hingga naiknya Bolsonaro di Brazil, Orban di Hungaria, dan Duterte di Filipina sekilas merupakan pertanda dari kehancuran tatanan liberalisme internasional.

Untuk itulah, pada hari Sabtu, 20 Juli 2018, Suara Kebebasan bekerja sama dengan Students for Liberty (SFL) Indonesia, mengadakan diskusi publik dengan mengangkat tema "Masa Depan Kebebasan di Indonesia" bersama peneliti Bursa Efek Indonesia, Poltak Hotradero, di Hiveworks Co-Work & Cafe Jakarta. Dalam diskusi ini, dibahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh liberalisme, baik dari sisi ekonomi maupun kebebasan sipil, yang terjadi di luar negeri maupun di tanah air.

Siapa sih yang tidak tahu smartphone, dan siapa yang zaman sekarang tidak punya smartphone atau Handphone. Kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari televisi, kulkas, alat pendingin, internet, mobil, motor, sepeda, pakaian yang modis dan bermutu tinggi, ojek online, bahkan makanan instan yang memanjakan perut kita. Semua itu merupakan hal lumrah dalam keseharian kita, tetapi tidak pada 150 tahun lalu.

Ya, dalam waktu kurang dari 200 tahun peradaban manusia bisa melompat sedemikian jauh dari apa yang dahulu nenek moyang kita lakukan. Teknologi pertanian zaman Fir’aun di abad ke-18 SM  tidak jauh beda dengan cara bertani manusia Jawa pada tahun 1400-1700an. Namun di abad 20-21, tekhnologi pertanian kian maju, kita terus menemukan varietas unggul, sistem irigasi modern, dan teknik bertani yang menghasilkan produktivitas tinggi.

Darimana keunggulan dan kemajuan tersebut? Kekuatan maha dahsyat darimana yang telah membuat perubahan besar-besaran pada manusia millenial ini? Tak lain tak bukan, karena manusia telah menciptakan sistem yang “manusiawi”, yang efisien, dan juga menjunjung kreativitas manusia. Sistem itu bernama KAPITALISME!

Beberapa waktu yang lalu Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mengeluarkan data terbaru bahwa jumlah pengungsi yang keluar dari Venezuela telah mencapai 4 juta orang. Ini sungguh ironis karena pemilu presiden Venezuela tahun 2018 menunjukkan bahwa ada sekitar 6 juta orang memilih kembali Nicolas Maduro sebagai presiden. Ini berarti masyarakat Venezuela secara sah menginginkan rezim sosialis Maduro kembali berkuasa.

Tentu kita jadi bertanya-tanya: jika masyarakat Venezuela memang menginginkan Maduro, kenapa mereka memilih pergi? Mana yang harus kita percaya: hasil pemilihan umum atau pilihan masyarakat Venezuela untuk minggat dari tanah airnya?

Akal sehat kita tentu langsung mengatakan bahwa keputusan masyarakat Venezuela untuk minggatlah pilihan publik yang lebih genuine, sementara hasil pemilunya adalah hasil pemilu kaleng-kaleng. Kenapa begitu?

Jawabannya sederhana: karena pilihan untuk minggat dari negeri sendiri merupakan pilihan yang lebih berat daripada pilihan yang kita ambil di dalam bilik suara pemilu. Ketika kita memilih untuk pergi dari kampung halaman, kita harus mengorbankan begitu banyak hal, mulai dari hal-hal yang bisa diukur seperti harta-benda, hingga hal-hal yang tak terukur seperti perasaan sentimentil dan keterikatan emosional terhadap tempat tinggal. Belum lagi jika kita mempertimbangkan ketidakpastian nasib yang akan kita hadapi di negara orang nanti. Dengan kata lain, dari sudut pandang ekonomi, pilihan untuk minggat adalah pilihan yang lebih mahal daripada pilihan politik dalam pemilu.

Kata “waria”, “bencong” atau “banci” dalam pergaulan masyarakat kita merupakan suatu kata atau nama yang berkonotasi negatif, “cis, penakut! dasar banci kau!”, “dasar bencong lo!”, “jadi waria aja lu sambil ngamen!!” dan lain sebagainya. Tidak pernah saya dengar ucapan yang berkonotasi positif pada kata ini, ini membuktikan bahwa banci secara istilah dan makna sudah tercitra sedemikian buruk dalam masyarakat kita.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tahun 2016 menerbitkan aturan mengenai larangan pria bergaya wanita tampil di layarkaca. Atas dasar “moralitas” dan “norma kemanusiaan”, KPI melarang para lelaki yang berdandan wanita untuk hadir dan menghibur pirsawan lewat kotak televisi. Ini mendambah daftar merah betapa masyarakat dan pemerintah secara terstruktur malah menindas dan menyingkirkan anak bangsanya dari pergaulan.

Seorang waria seolah telah divonis di negeri ini untuk menjadi masyarakat buangan. Seorang waria tidak bisa menikmati hidup sebagaimana kehidupan orang-orang yang menganggap dirinya normal. Mereka bagaikan dikutuk untuk tidak bisa menjadi “manusia seutuhnya”.